Duka membawa hikmah. Kalimat itu mungkin cocok menggambarkan petani kopi di Kampung Pasirmulya, desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2009, daerah Pangalengan mengalami musibah bencana gempa bumi. Kala itu Ir. Jayagama ME mengadakan kegiatan bakti sosial berupa kegiatan Dapur Masal selama beberapa hari ditutup dengan Pengobatan Masal untuk sedikitnya mengurangi beban dan meningkatkan motivasi korban gempa di Desa Margamulya. Kegiatan bakti sosial tersebut membuahkan suatu pemikiran, untuk meningkatkan kembali kesejahteraan masyarakat yang notabene bermata pencaharian sebagai petani.

Kecamatan pangalengan merupakan Sentral produksi sayuran. Oleh karena itu tak heran apabila masyarakat di sana bermata pencaharian sebagai petani. Di kampung Pasirmulya, selain komoditas sayuran terdapat satu kelompok tani yang menanam komoditas perkebunan. Komoditas perkebunan yang ditanam adalah kopi arabika. Kelompok tani yang digawangi oleh Supriatna Dinuri itu telah berdiri sejak 24 September 1992. Pada tahun 2001 kelompok tani yang bernama “Rahayu” tersebut berubah haluan dengan mengusahakan tanaman perkebuan yaitu kopi.

Kopi merupakan tanaman tahunan dan baru mulai berbuah pada umur 2,5—3 tahun setelah tanam. Untuk kebanyakan anggota hal itu sangat menjemukan, akibat tuntutan kebutuhan harian yang yang terus mendesak memaksa anggota melepaskan diri dari kelompok tani rahayu. walhasil hanya tujuh orang saja yang bertahan menanam kopi. Bukan hanya hal tersebut, teknik penanganan pasca panen dan jejaring pasar yang belum terbuka, menjadikan komoditas kopi semakin terkucilkan oleh kebanyakan anggota. Walaupun demikian Supriatna Dinuri dan tujuh anggota lainnya tetap bertahan mengusahakan komoditas kopi sampai akhirnya di tahun 2009 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) “Rahayu Tani” didirikan dan mendapatkan Hak Kelola Hutan Pangkuan Desa dari PERHUTANI KPH Bandung Selatan, BKPH Banjaran RPH Logawa seluas 60 Ha dengan Pola PHBM (Pengolahan Hutan Bersama Masyarakat).

Komunikasi dua arah antara Jayagama dan Dinuri pada saat kegiatan bakti sosial korban bencana gempa bumi menemukan titik temu yang berujung pada kesepakatan bagaimana caranya meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, khususnya petani kopi mengingat kopi merupakan komoditas ekspor Indonesia. Tahun 2009 merupakan titik awal usaha dibidang kopi, dan merupakan cikal bakal Kopi Malabar Indonesia dengan prinsip Bermitra Berbagi Peduli antara Jayagama dengan Supriatna Dinuri. Di tahun 2010 akhirnya Jayagama dan Dinuri mendirikan PT. Nuga Ramitra (Kopi Malabar Indonesia).

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh kedua orang itu dalam rangka menbangun kembali kesejahteraan masyarakan Desa Pasirmulya melalui revitalisasi komoditas kopi yang telah diusahakan oleh kelompok tani Rahayu dan LMDH Rahayu Tani. Kegiatan kegiatan tersebut antaralain:

  1. Perjanjian kerjasama Pengelolaan Perkebunan dan Pengolahan Kopi antara Kopi Malabar Indonesia dengan LMDH Rahayu Tani
  2. Kopi Malabar Indonesia mendapat Hak Paten Merk KOPI MALABAR dari HAKI, September 2010
  3. Pengembangan lahan perkebunan kopi melalui pembangunan dan renovasi fasilitas kantor di Desa Pasir Mulya, revitalisasi lahan garapan yang terlantar, penanaman kebun kopi baru, dan pembangunan lahan pembibitan Kopi Malabar Indonesia.
  4. Pengembangan kopi luwak Malabar melalui penangkaran luwak, pengembangan budidaya luwak, pengembangan budidaya luwak metode treatmen, dan pembangunan sarana kandang luwak yang representative.
  5. Program kemitraan dengan Perhutani

Areal perkebunan kopi yang digarap oleh Kopi Malabar Indonesia berada di kaki gunung Malabar. Hal itu menjadi salah satu dasar mengapa PT. Nuga Ramitra memberi nama Kopi Malabar Indonesia. Selain itu gunung Malabar menyimpan banyak filosofi yang bisa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Gunung Malabar mempunyai arti yang sangat strategis dalam kehidupan masyarakat, baik estetika, religi, sosial, maupun ekonomi.

Hawa dingin dengan limpahan hujan yang cukup pada lereng gunung Malabar memberikan keberkahan yang luar biasa. Setiap bagian dari lerengnya menyajikan kesempatan pada berbagai tanaman untuk tumbuh subur. Hal tersebut menjadi konsep dasar dari Kopi Malabar Indonesia. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk para petani sekitar untuk mengembangkan potensinya dalam menggarap komoditas kopi sehingga kesejahteraan mereka dapat meningkat.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani tentu perlu didukung oleh kemampuan petani dalam membudidayakan kopi dengan baik dan ramah lingkungan. Selain itu, penerapan-penerapan teknologi terbarukan sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi. Dalam upaya meningkatkan sumber daya petani kopi, Kopi Malabar Indonesia mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya disingkat P4S Rahayu Tani Malabar. Tujuan terselenggaranya program-program pelatihan bagi para petani di bidang perkebunan dan perindustrian di bidang perkopian secara teratur dan berkesinambungan diaplikasikan dalam GAP (Good Agriculture Proces) dan GMP (Good Manufacturing Proces). Pelatihan dari mulai pembibitan kopi, budidaya,pasca panen, pengolahan hilir, budidaya luwak, sampai program kewirausahaan terselenggara di P4S Rahayu Tani Malabar.

Menurut Jonathan Rigg. (1862), kata malabar berasal dari kata labar-lébér atau lébér-labar, yang berarti meluber, melebar ke semua arah. Hal tersebut memang sesuai dengan struktur gunung Malabar yang membentang dan melebar. Kopi Malabar Indonesia juga berusaha menerapkan konsep melebar tersebut. Oleh karena itu pada tahun 2012 dibentuk Koperasi Mitra Malabar. Koperasi yang didirikan berdasarkan Akta Notaris T. Martin Arifin, SH No 16  pada tanggal 20 Juni 2012 itu memiliki kegiatan yang bertujuan untuk mensejahterakan petani kopi.

Koperasi Mitra Malabar mengelola agribisnis dengan menerapkan prinsip-prinsip koperasi untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dengan berusaha meningkatkan perekonomian masyarakat ke arah yang lebih baik khususnya anggota. Labar-lébér, dan terus melebar itulah yang dilakukan Koperasi Mitra Malabar berawal dari petani kopi Desa Margamulya, melebar ke Kecamatan Pangalengan, kemudian Kabupaten Bandung, hingga akhirnya lingkup Koperasi Mitra Malabar sampai pada Provinsi Jawa Barat. Koperasi Mitra Malabar menaungi beberapa Koperasi Cabang di beberapa kabupaten penghasil kopi di Jawa Barat. Koperasi Mitra Malabar menampung hasil panen kopi secara tunai dengan harga yang layak untuk petani dengan prinsip Fair Trade.  Petani mendapatkan harga dasar penjualan kopi ditambah sisa hasil usaha dari trading kopi dan fasilitas lainnya yang menunjang kegiatan usaha tani kopi. Prinsip fair trade akan meningkatkan kesejahteraan para petani kopi secara langsung.

Komoditas kopi sejatinya bukan hanya milik Jawa Barat. Kopi merupakan komoditas unggulan bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke terdapat berbagai macam kopi dengan berbagai ciri khas yang menjadi keunggulan masing-masing. Berawal dari pemikiran tersebut, terbentuklah Rumah Kopi Nusantara pada tahun 2014. Di tempat itu, kopi-kopi yang berasal dari petani kopi se Indonesia ditampung dan diperkenalkan pada pengunjung melalui sajian dan racikan istimewa. Tak heran jika banyak pengunjung menyebut Rumah Kopi Nusantara Sebagai Museum kopi bukan cafe. Bertempat di Taman Mini Indonesia Indah yang merupakan miniatur keragaman suku-suku di Indonesia menjadikannya semakin pas menggambarkan keanekaragaman kopi di wilayah Indonesia.

Kopi Malabar Indonesia akan tetap memegang filosofi Gunung Malabar yang labar-lébér, melebar memberikan kesejukan bagi manusia, memberikan tempat tumbuh bagi berbagai macam tumbuhan, memberikan kesempatan bagi berbagai macam hewan untuk tumbuh dan menjadi penyangga keseimbangan kehidupan. Maka dari itu Kopi Malabar Indonesia senantiasa menjaga kelestarian gunung Malabar dengan teknik budidaya yang ramah lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan demikian simbol dari Kopi Malabar Indonesia itu bisa terus lestari (Qiw).

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *