KOPERASI MITRA MALABAR

Tumbuh dan Berkembang:
Menemukan Jalan Bersama dengan Koperasi

2009

Titik Tolak

Hikmah dari setiap peristiwa. Tahun 2009 terjadi bencana gempa di Pangalengan, Bandung Selatan. Haji Jayagama bersama dengan komunitasnya, melakukan kegiatan recovery pasca gempa disana. Dipertemukan dengan tokoh-tokoh masyarakat disana yang memiliki komitmen dan semangat yang luarbiasa untuk membangun kembali desa-nya yang terdampak bencana gempa bumi.


2010-2011

Mengangkat Potensi Ekonomi Desa

Salah satu kegiatan recovery pasca gempa dibidang ekonomi, adalah mengembangkan potensi perkebunan rakyat di daerah Pangalengan yang telah terkenal sebagai salahsatu sentra produksi kopi Jawa Barat. 2 tahun membangun kopi Malabar, banyak hal yang diluar dugaan, disamping peluang ekonominya yang tinggi disisi lain banyak ‘ilmu’ yang tidak diketahui oleh petani dan masyarakat awam tentang kopi dan seluk beluknya. Waktu pembelajaran dan perjuangan yang tidak mudah dilalui, tetapi harus dilewati.


2012

Mendirikan Koperasi

Selama 2 tahun mengangkat potensi ekonomi desa, para pendiri kopi Malabar sepakat mendirikan koperasi yang akan mewadahi petani dan pengolah kopi di Bandung. Hasil konsultasi dengan para tokoh perkoperasian Jawa Barat dan dinas koperasi provinsi, disarankan untuk pendirian koperasi ini setingkat provinsi agar dapat menjadi wadah bagi seluruh petani, prosesor dan penggiat kopi se-Jawa Barat.

Harapan ke depan, Koperasi Mitra Malabar dapat menaikkan nilai tambah kopi sekaligus menjembatani petani ke pasar dalam negeri maupun luar negeri.


2021-2013

Lompatan Pertama

Keunggulan dan popularitas kopi java preanger didalam negeri sudah lama menjadi “cerita”. Bekas jejaknya masih ada dibeberapa wilayah jawa barat, tapi tidak semua kopi yang dibudidayakan dan diolah oleh petani jawa barat sebagai kopi unggul dengan citarasa seperti java preanger jaman dulu. Pemuliaan tanaman kopi inilah salahsatu pondasi yang harus disiapkan oleh masyarakat perkopian jawa barat, dilakukan dengan swadaya untuk ‘menggelitik’ para stakeholders agar peduli terhadap pentingnya bibit unggul dalam budidaya kopi.


2013

Melompat Bersama

sadar masalah perkopian di hulu, tengah dan hilir ini tidak sedikit dan kompleks. KMM menginisiasi terbentuknya Forum Clearing House Kopi Jawa Barat (CHK Jabar). Forum yang dimaksudkan untuk media berkumpulnya para stakeholders lintas profesi & tugas, mencakup dari hulu sampai hilir. Forum yang diharapkan mampu mengurai bersama benangkusut yang selama ini tidak ketemu ujung-pangkalnya. Forum yang diharapkan dapat memberikan informasi yang ‘clear’ dan sekaligus mendistribusikan informasi ini ke semua pihak, sehingga perdagangan kopi jawa barat akan tertata dengan baik.


2013

Lompatan Ketiga yang Beresiko Tinggi

forum clearing house kopi jawa barat dilantik oleh gubernur Jawa Barat, pada tahun yang sama kopi rakyat jawa barat memperoleh order dari maroko. Skema perdagangan yang dibangun dengan pola fair-trade (perdagangan yang berkeadilan). Konsep kemitraan yang dibangun adalah harga dari petani jawa barat dibuka apa adanya dan harga jual di maroko akan dibuka apa adanya oleh buyer/importir. Beresiko karena barang dilepas tanpa LC, dibayar setelah laku di maroko.


2014-2015

Lompatan Keempat

Budaya kopi nusantara tidak dapat dipisahkan dengan ke-arifan lokal yang sangat beragam di bumi Indonesia. KMM bersama dengan Kementerian Koperasi dan UKM menginisiasi forum pemasaran bersama kopi petani Indonesia, pertemuan awal di akhir 2013 dilakukan di Bandung. Tahun 2014 bersama dengan kementerian koperasi dan UKM melalui program promosi produk unggulan daerah, dengan membuka Rumah Kopi Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.


2016-2017

Lompatan Kelima

Sejak awal tahun 2016, Pengurus Koperasi Mitra Malabar Jawa Barat melakukan diskusi dengan petani dan tokoh masyarakat di kecamatan parigi, kabupaten pangandaran, jawa barat yang memiliki potensi komoditas kelapa tapi belum optimal dalam pengembangan peluangnya, maka pada Nopember tahun 2016 KMM menginisiasi pembentukan Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KPMK) Kabupaten Pangandaran. Setahun kemudian di Oktober 2017, KMM mendirikan pabrik pengolahan kelapa terpadu yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah kelapa.


2017-2018

Lompatan Keenam

Optimalisasi lahan sekitar kebun kelapa, untuk budidaya sereh wangi. Sebagai alternatif sumber pendapatan petani saat tidak panen kelapa. Untuk meningkatkan nilai tambah daun sereh wangi setelah disuling menjad minyak atsiri (essential oil), diolah menjadi produk-produk turunan sereh wangi, seperti: sabun dan karbol.


2019-2020

Lompatan Ketujuh

Program Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI sudah dikampanyekan sejak 4 tahun terakhir, dalam rangka mendukung program PS ini KMM memberikan pendampingan ke beberapa desa dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) di provinsi jawa barat. Salah satunya di desa loa dan drawati, kecamatan paseh, kabupaten bandung, yang memiliki potensi agribisnis kopi dan hasil hutan lainnya. Pendampingan dimulai sejak pengajuan Perhutanan Sosial, kemudian penguatan kelembagaan petani dengan mendirikan koperasi produsen, sampai ke tahapan pendampingan pengolahan kopi (pasca panen).